Perjuangan Pro Player Melawan Cedera Saraf dan Masalah Mental
canadiandragons-sg.org- Di balik gemerlap panggung juara, lampu sorot yang terang, dan riuh rendah teriakan suporter di arena,
tersimpan sisi gelap yang jarang tersentuh kamera: kesehatan fisik dan mental para atlet esports.
Memasuki tahun 2026,
intensitas kompetisi yang semakin tinggi memaksa para pro player bekerja melampaui batas kemampuan tubuh manusia.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai perjuangan mereka di balik layar.
Harga Sebuah Kemenangan: Perjuangan Pro Player Melawan Cedera Saraf dan Masalah Mental.
Bagi seorang pro player, tubuh mereka adalah aset sekaligus musuh. Satu detik keterlambatan refleks bisa
berarti kehilangan trofi miliaran rupiah.
Namun, demi mengejar refleks “sepersekian detik” tersebut, ada harga mahal yang harus di bayar.
Ancaman Fisik: Ketika Saraf Tak Lagi Kompromi
Gerakan tangan yang repetitif selama 10 hingga 12 jam latihan sehari menciptakan tekanan ekstrem pada jaringan saraf.
Carpal Tunnel Syndrome: Penyakit paling umum yang menghantui pemain. Tekanan pada saraf median di pergelangan
tangan menyebabkan mati rasa, kesemutan, hingga kelemahan fungsi tangan.
Cubital Tunnel Syndrome: Sering di alami pemain yang terlalu lama menekuk siku saat memegang ponsel atau controller,
mengakibatkan jari manis dan kelingking kehilangan kekuatan.
Kisah Nyata: Kita melihat bagaimana legenda seperti R7 (RRQ) atau Tuturu harus mengambil keputusan berat untuk
rehat atau pensiun dini karena masalah tangan yang tidak bisa lagi dipaksakan untuk berkompetisi di level tertinggi.
Masalah Mental: Penjara Tak Kasat Mata
Kesehatan mental menjadi isu yang lebih kompleks di tahun 2026. Tekanan tidak hanya datang dari pelatih,
tetapi juga dari jutaan orang di media sosial.
Burnout (Kelelahan Hebat): Rutinitas yang monoton—bangun, latihan, makan, latihan, tidur—membuat otak kehilangan
kreativitas dan gairah. Banyak pemain merasa “kosong” meski mereka sedang berada di puncak karier.
Tekanan Netizen: Satu kesalahan kecil (blunder) dalam pertandingan internasional bisa memicu ribuan komentar
kebencian (hate speech). Bagi pemain muda yang belum matang secara emosional.